Perempuan Itu Mampu Tapi Tidak Mau!

Dalam sejarah Indonesia, perjuangan emansipasi ditandai dengan surat-surat RA Kartini kepada sahabatnya di Belanda. Lewat surat-surat yang sangat cerdas itu, bangsawan dari Jepara itu curhat seputar marginalisasi yang menimpa kaumnya. Saat memasuki jaman yang lebih modern, apa yang diungkapkan Kartini terasa masih relevan. Ternyata setelah hampir seratus tahun, jika ditempatkan dalam konteks jamannya, posisi kaum perempuan di negeri ini masih saja jauh dari cita-cita emansipasi. Apakah kondisi tersebut karena kesalahan pemerintah, kaum laki-laki atau justru dari kaum perempuan itu sendiri?

Beberapa tokoh perempuan yang ditemui Indep News baik dari kalangan politisi, birokrasi hingga PKK menyatakan, kemampuan perempuan sama atau justru lebih dibandingkan kaum laki-laki. Tapi mereka mengakui, kemajuan kaum Hawa ini masih terhadang dengan berbagai rintangan seperti paham sosio kultural lingkungan, ekonomi hingga keluarga. Ni Ketut Tresnawati Bulan, salah satu politisi perempuan dari Jembrana menilai, meski sistem politik saat ini sudah memberikan ruang lewat kuota 30% untuk caleg perempuan, tapi masih sangat sedikit yang memanfaatkannya. “Kalaupun perempuan mau jadi caleg, untuk penggalangan suara tidak seintens dibandingkan caleg laki-laki,” keluhnya. Bulan melihat, kenyataan ini berkaitan erat dengan image negatif seputar perempuan yang kerap keluar malam. Sebagai politisi, Bulan mengaku, seringkali dirinya harus bertemu dengan konstituensnya hingga malam hari. “Harus diakui, masyarakat kita masih susah menerima perempuan yang pulang malam. Padahal pulang malam itu tidak identik dengan hal-hal yang negatif, kalau jadi politisi apalagi wakil rakyat kerja tidak akan maksimal kalau hanya berdiam diri di rumah,” katanya.

Dalam kesempatan ini Bulan juga mengkritisi proses pengkaderan di partai politik dimana masih ada kesan dominasi laki-laki yang kuat. “Jumlah kader perempuan yang mengikuti kegiatan partai di tingkat nasional masih sangat sedikit. Harusnya partai lebih memberikan ruang kepada kami, minimal kuota 30% kan juga bisa dipakai di intern parpol saat ada kegiatan pengkaderan,” jelasnya. Ia yakin, jika kesempatan dalam hal ini sama, maka kemampuan perempuan akan berkembang pesat. Dirinya yang sudah merasakan “kesuksesan” sebagai politisi perempuan merasa, dalam berbagai hal sesungguhnya kaumnya memiliki kemampuan lebih. Dengan kepekaan alami sebagai wanita, politisi-politisi dari kaum ini memiliki tanggungjawab lebih.

Soal kemampuan perempuan dalam mengawal tanggungjawab yang dibebankan kepadanya juga ditegaskan oleh Kepala BPN Jembrana, Ayu Tresna Laksmi. Perempuan yang boleh dibilang melesat karirnya di birokrasi pemerintahan ini mengatakan, intinya perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki. “Contoh kalau diberi tanggungjawab perempuan akan lebih cepat menyelesaikan,” katanya. Ia juga menambahkan, kalau dinilai secara obyektif, sejatinya perempuan lebih kuat dibandingkan laki-laki. “Kalau perempuan itu bekerja dengan jam-jam tertentu, sebelum atau sepulang kerja pasti ia masih menyempatkan diri mengurus rumah tangga meski capek. Artinya kami kan kaum yang kuat,” imbuhnya. Ia melihat, belum tercapainya cita-cita emansipasi lebih disebabkan image bahwa perempuan itu lemah. “Padahal tidak seperti itu, kita memang hamil dan melahirkan, tapi tidak lantas kodrat itu selalu dijadikan alasan bahwa perempuan adalah kaum yang lemah,” tandasnya.

Ayu mungkin salah satu perempuan yang beruntung karena berkarir di instansi yang memberikan kesempatan sama bagi pegawainya tanpa memandang gender. Menurutnya, di BPN jika pegawainya ingin naik jenjang karirnya maka seleksi akan dilakukan lewat tes. Dengan mengambil contoh dirinya, Ayu melihat, perlu diciptakan sistem di seluruh instansi pemerintahan agar kompetisi karir antara kaum laki-laki dan perempuan lebih adil. “Kalau sistem sudah memberikan kesempatan yang sama, maka tidak ada alasan perempuan harus tertinggal,” ujarnya. Agar bisa memberikan peran yang lebih dimanapun dirinya berada Ayu menyarankan kaumnya untuk meningkatkan kecerdasan pola pikir, emosional dan spiritual.

Sementara Camat Negara, Ni Wayan Koriani, birokrat perempuan lainnya mengatakan, soal berhasil atau tidaknya perempuan dalam bingkai emansipasi sangat tergantung pada mereka sendiri. Ia menyadari, tidak semua perempuan memiliki SDM yang bagus, pun tidak semua kaumnya memiliki kemauan untuk mengembangkan potensi diri. Menurut Kori, sebagian besar perempuan masih cepat puas diri. “Rata-rata perempuan sudah cukup puas dengan diberi nafkah yang cukup dari suami, sehingga malas untuk mengembangkan potensi dirinya. Padahal kalau potensi itu dikembangkan, perempuan akan memiliki nilai plus tanpa menganggu harmonisasi rumah tangganya,” kata Kori. Dengan pandangan seperti ini, Koriani melihat, persamaan gender oleh kaum perempuan tidak cukup hanya lewat jenjang pendidikan formal. “Tapi harus ada kesadaran diri, untuk tetap berkembang meski sudah menjadi ibu rumah tangga,” jelasnya.

Karena posisinya hingga saat ini belum ideal, Koriani menghimbau, agar gerakan emansipasi mencari terobosan-terobosan baru dalam perjuangannya. Menurutnya, tidak ada yang bisa membangkitkan persamaan gender selain dari perempuan itu sendiri. Selain itu kepada kaum laki-laki ia minta mereka memberikan ruang yang kondusif untuk perkembangan potensi perempuan. “Kalau ada perempuan yang ingin menapak karir seperti kaum laki-laki jangan diledeklah,” tambahnya. Dengan kesadaran bersama ini, Koriani yakin, kasus-kasus marginalisasi yang menimpa perempuan seperti kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) akan bisa diminimalisir. Tapi ia berpesan, jika sudah diberikan kesempatan perempuan jangan lantas merasa superior dengan menafikkan kaidah-kaidah moral. “Jangan nanti malah perempuan yang melakukan KDRT, sebab pelaku KDRT bisa berasal dari perempuan maupun laki-laki,” katanya.

Mendengarkan apa yang dilontarkan Bulan, Ayu maupun Koriani, jelas mereka optimis posisi perempuan semestinya sama dengan kaum laki-laki. Ketiga perempuan ini juga menggarisbawahi, emansipasi bukan berarti perempuan harus melupakan kodratnya apalagi sampai menganggu hubungan dalam rumah tangga. Justru mereka melihat, ketika keluarga baik itu suami maupun anak-anaknya memberikan support atas kegiatan positif yang dilakukannya, maka emansipasi perempuan akan lebih cepat terengkuh dan manis rasanya. Baik Bulan, Ayu maupun Koriani adalah contoh perempuan yang sukses berkat dukungan suaminya. Soal kemampuan apa yang dikatakan Ayu mungkin ada benarnya. Perempuan punya kemampuan tapi belum tentu mau, sementara laki-laki punya kemauan tapi belum tentu mampu. Nah!

dicopas dari sini

0 komentar:

Copyright © 2008 - sirih merah - is proudly powered by Blogger
Blogger Template